Tawanan diperlakukan manusiawi, tak disiksa semena-mena, tak dicederai kehormatannya

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Sepanjang hidup Rasulullah SAW zaman menjadi Nabi dan memimpin Islam, tak terkira puluhan perang dihadapi. Tak jarang, usai memenangkan peperangan Nabi dan sahabat membawa pulang tawanan perang.

Biar mereka merupakan lawan dan imbangan bagi umat Muslim, namun tawanan tersebut tidak pernah diperlakukan secara buruk. Islam merupakan agama dengan menghindari praktek kekerasan terhadap tawanan perang. Islam tidak pernah membenarkan praktek-praktek yang melanggar hukum.

Setelah perang Badar, misalnya, setidaknya ada 70 musyrik Quraisy yang berhasil ditawan umat Agama islam. Mereka diperlakukan secara manusiawi, tidak disiksa dengan semena-mena, dan tak dicederai kehormatannya.

Di dalam buku Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Bani Katsir, digambarkan Rasulullah SAW mengakui tawanannya dengan empat cara. Baru, mengeksekusi mati tetapi hal tersebut sangat jarang sekali dilakukan. Pada kasus tawanan perang Badar, cuma dua orang yang dieksekusi tewas, sementara sebagian besar lainnya dilepaskan dengan atau tanpa syarat. Nadhr bin Harits dan Uqbah bin Abu Mu’aith adalah tawanan dengan dibunuh karena kejahatan perangnya yang besar, bukan karena faktor balas dendam.

Perlakuan ke-2 yakni membebaskan dengan tebusan. Nabi SAW sangat memperhatikan kondisi ekonomi setiap tawanannya. Jumlah tebusannya pun bervariasi, tergantung harta yang dimiliki. Uang tebusan ini nantinya dimanfaatkan untuk keperluan umat Islam, bukan digunakan Rasul secara pribadi. Diantara tawanan yang dilepas dengan bayaran harta adalah Abu Wada’ah dan Zararah bin Umair (saudara Mus’ab bin Umair) dengan 4000 dirham, al-Abbas bin Abdul Muthalib dengan 100 uqiyah, dan Aqil bin Abu Thalib dengan 80 uqiyah.  

Ada biar tebusan yang diberikan bentuknya tak harus selalu dengan uang ataupun harta. Beberapa kali terjadi tukar guling atau tukar menukar dengan tawanan perang lainnya. Satu diantara contohnya merupakan kasus Abu Amr bin Bubuk Sufyan yang dilepaskan dengan kondisi kaum musyrik juga melepaskan Sa’ad bin an-Nu’man bin Akal dengan ditawan ketika umrah.

Ketiga, Rasulullah SAW setuju membebaskan tawanan perang dengan syarat mengajarkan baca-tulis. Rasul tahu dan menyadari jika tidak semua tawanannya mempunyai harta benda yang melimpah. Sebab itu, Rasulullah memiliki cara tersisih untuk mengatasi persoalan itu.

Bagi tawanan yang mampu membaca dan menulis, mereka mau dibebaskan jika mau mengajari umat Islam atau anak-anak Anshar mengenai baca-tulis. Ibnu Abbas meriwayatkan, “Beberapa tawanan perang Badar ada yang memiliki uang untuk tebusan, oleh sebab itu Rasulullah menjadikan tebusannya dengan menunjuki anak-anak Anshar”.

Belakang, tak jarang Rasulullah membebaskan minus syarat apapun. Keputusan itu dikerjakan bukan atas kehendak sendiri, namun setelah didiskusikan dengan para sahabat. Rasulullah adalah orang yang mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan suatu situasi.

Abul Ash bin Ar-Rabi, suami Sayyidah Zainab putri Rasulullah, adalah salah seorang tawanan perang yang dilepaskan tanpa kekayaan tebusan. Pada saat itu, menantu Rasulullah itu belum masuk Agama islam dan ikut bertarung di kesatuan kaum musyrik Makkah ketika konflik Badar.

Malang tidak dapat ditolak, kaum musyrik tersisih dalam perang dan ia terperangkap. Sayyidah Zainab awalnya telah menebus Abul Ash dengan kalung ganjaran dari ibundanya, Khadijah. Namun, Rasulullah saw memutuskan mengembalikan kalung itu serta membebaskan Abul Ash setelah berbicara dengan para sahabatnya.

“Seandainya Al-Muth’im bin Adi (pembesar kaum Musyrik) masih hidup, lalu ia berbicara kepadaku tentang para tawanan ini, pasti aku bakal melepaskan mereka untuknya, ” cakap Rasulullah di hadapan tawanan perang Badar.

Al-Muth’im merupakan salah seorang elit musyrik yang dihormati Rasulullah. Ia merupakan salah seorang yang ikut membatalkan perjanjian boikot yang dilancarkan kaum musyrik kepada Bani Hasyim.