IHRAM. CO. ID,   MOSKOW — Beberapa besar pemimpin dunia telah menganjurkan selamat kepada presiden terpilih Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat Joe Biden. Sejauh ini, cuma Presiden Rusia Vladimir Putin yang belum mengeluarkan kata-kata selamat pada Biden.

Presiden Putin mengatakan, tidak memiliki motif terpendam untuk menahan ucapan selamat kepada Biden atas proyeksi kemenangan kepresidenannya di tengah penolakan Donald Trump untuk menyerah. “Formalitas harus diikuti berdasarkan praktik yang mapan & standar hukum. Tak ada pola tersembunyi atau apapun yang sanggup merusak hubungan kami lebih jauh, ” ujar Presiden Putin dikutip laman  Sputnik,   Senin (23/11).

“Ini adalah pendekatan yang murni sahih, ” ujarnya menambahkan. Dia selalu mengatakan, bahwa dirinya mengambil ancangan lebih baik menunggu dan melihat hasil resmi sambil mengharapkan debu pasca-pemilihan mengendap di AS.  

“Ini bukan karena kami menyukai atau tidak menyenangi seseorang, kami hanya menunggu simpulan dari konfrontasi politik internal ini, ” kata Putin. Putin mempunyai rasa hormat yang sama buat Trump dan Biden.  

“Kami akan bekerja dengan siapa pun, yang memegang kepercayaan rakyat AS, ” katanya. Namun demikian, menurutnya, kepada siapa keyakinan tersebut diberikan harus ditunjukkan meniti konvensi politik ketika salah kepala pihak mengakui kemenangan pihak lain, atau hasil akhir dari pemilu harus diringkas dengan cara yang sah dan legal.

Putin juga menilai kekurangan bentuk pemilihan di AS. “Ini pas jelas bagi semua orang pada dunia, bagi saya tampaknya jelas bagi orang Amerika, ada perkara dalam sistem pemilihan AS, ” katanya.

Presiden Putin menjelaskan, bahwa seorang kandidat, yang menang di negara bagian terbatas diuntungkan semua suara pemilih.  

“Tapi mungkin tersedia lebih sedikit pemilih di buntut pemilih ini. Apakah itu demokratis? Menurut saya, pertanyaannya jelas, ” kata presiden. Kendati begitu, bagaimanapun, kata Putin, dirinya tidak berkeinginan untuk menstigmatisasi sistem politik ataupun sistem pemilihan Amerika.

“Itu dilakukan sejak lama. Seperti yang dikatakan salah satu konco saya di Amerika: ‘Kami sudah terbiasa. ‘ Praktiknya sudah dibentuk. Apakah perlu atau tidak mengganti apa pun di sana? tersebut bukan urusan kami, ” kata Putin.

Juru cakap kepresidenan Rusia Dmitry Peskov telah berulang kali menekankan bahwa Moskow siap untuk bekerja dengan presiden manapun yang dipilih oleh pemilih Amerika untuk menemukan cara menormalkan hubungan Rusia-Amerika.

Dekat semua jaringan media utama AS telah memproyeksikan calon dari Kelompok Demokrat Joe Biden menjadi pemenang pemilihan presiden 3 November, meskipun Electoral Colleges belum memberikan suaranya. Perkiraan media telah mendorong sebesar besar pemimpin dunia dan politisi untuk memberi selamat kepada Biden dan cawapresnya, Kamala Harris atas kemenangan mereka.

Tetapi demikian presiden Donald Trump tersua bahwa dia telah memenangkan pemilihan dan menuduh tanpa bukti kemenangannya dicuri darinya melalui penipuan pemilu besar-besaran.   Trump dan awak hukumnya telah memulai audit dan penghitungan ulang di beberapa negeri bagian dan telah mengajukan sebanyak tuntutan hukum. Kuasa hukum awak Trump mengutip banyak pelanggaran pengumpulan suara di negara bagian kawasan pertempuran utama yang dapat membujuk hasil pemilihan.