IHRAM. CO. ID, JAKARTA — Sinar Mas langsung mengajak usaha kecil agar mampu tumbuh bersama. Sebab sebelumnya, perusahaan tersebut juga berasal dari Daya Mikro Sektor Menengah (UMKM).

“Apa dengan kemudian dikenal sebagai Sinar Raka, berawal dari sebuah usaha  kecil atau UMKM. Bermodalkan kekuatan tekad serta ketajaman visi, ” ujar Managing Director Sinar Mas Saleh Husin mengawali Webinar Series 82 Tahun Sinar Mas bertema Permutasi UMKM Tetap Berjaya di Sedang Pandemi, Kamis (12/11).

Dalam kegiatan dengan dihadiri Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, juga anggota Dewan Pertimbangan Asoasi Pengusaha Indonesia Franky Sibarani itu, Saleh bercerita, pendiri Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja di Makassar pada 1938 merintis bisnisnya pada masa krisis. Kejadian itu sebagai imbas dari kolonialisme dan Perang Dunia ke-2.  

“Sejarah selalu berulang, saat krisis memangkung bangunan kehidupan kita, UMKM-lah dengan mampu bergerak lebih gesit. Mereka memanfaatkan kesempatan yang ada, berinovasi memutar roda perekonomian dalam ukuran terbatas, namun bergerak meluas, ” tuturnya.  

Berbagai dalih tersebut, kata dia, membuat Cahaya Mas di usia lebih dari delapan dasawarsa tak lupa menarik UMKM, melalui beragam inisiatif pilar bisnisnya. “APP Sinar Mas serta Sinar Mas Agribusiness & Food membawa UMKM setempat masuk ke dalam rantai pasok mereka, melalaikan Program Desa  Makmur Peduli Sinar atau DMPA, ” kata Saleh.  

Sementara, guna menangkal dampak kritis pandemi Covid-19, pemerintah mengupayakan solusi baik dari sini penawaran maupun permintaan. “Di sisi supply, menggunakan dukungan restrukturisasi pembiayaan dan subsidi bunga. Sementara bagi UMKM dengan belum bankable, tersedia hibah pangkal kerja. Sementara dari sisi demand, bantuan menjaga daya beli asosiasi antara lain dilakukan melalui peresapan belanja pemerintah yang tahun ini dialokasikan mencapai Rp 321 triliun, ” ujar Menkop pada jalan serupa.  

Melalui Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, Teten menyampaikan jika negeri mendorong UMKM yang sebelumnya informal, agar bertransformasi menjadi formal secara berbagai kemudahan usaha, perizinan sekali lalu pendanaan. Selain itu, pemerintah serupa mengupayakan UMKM dapat bertransformasi, ke ranah digital.  

“Akan besar manfaatnya guna mengakses pasar yang bertambah luas, juga mengakses pembiayaan. Sebab sekarang semakin banyak lembaga pembiayaan yang menggunakan rekam jejak kesehatan keuangan digital sebagai landasan verifikasi, ” jelas dia.  

Staf Khusus Menkop UKM, Riza A Damanik menambahkan, pada sisi produksi, UMKM di Indonesia meskipun memiliki penuh kemewahan karena populasi sumber daya manusia yang besar serta sumber daya alam cukup kaya, namun memiliki persoalan pada keterhubungan dengan industri besar. “Mereka tidak berharta dalam rantai pasok yang sebanding. Jika kita lihat dari genting yang terjadi, baik di tahun 1998 maupun 2008, yang semakin besar adalah usaha mikro, bukan usaha kecil dan menengah. Ada ketidakterhubungan antara pengembangan industri nasional dengan usaha menengah, ” tuturnya.  

Langkah pengembangan yang akan dikerjakan pemerintah, kata dia, yakni menempatkan UMKM dan industri besar di gelanggang sama. Ia mencontohkan, sektor pangan yang selama pandemi tentu menunjukkan pertumbuhan yang baik.  

“Di sisi hulu praktis tidak ada masalah, namun penyerapannya mengalami pelambatan karena adanya pembatasan aktivitas, dan imbas perubahan pola konsumsi bagian menengah. Terjadi ketidakpastian penyerapan keluaran usaha kecil kita, ” jelasnya.  

Riza menyatakan, Kemenkop tengah mencari jalan memperluas peran koperasi guna meminta produk UMKM. Pada saat berbenturan menghubungkannya dengan perusahaan, baik BUMN maupun swasta.