Kisah liburan orang Yahudi di tengah Holocaust

REPUBLIKA. CO. ID, Mungkin bagi orang Nusantara sudah bisa tahu apa perasaan batin orang Palestina yang tumbuh terkepung dalam pagar di jalur Gaza setiap kali perayaan tahun baru baik tahun baru Islam atau tahun baru Kristen (Masehi).

Kali ini dengan ada tulisan yang menarik dalam Jerusalem Post melanggar perasaan orang Yahudi kala memuliakan tahun barunya, Rosh Hasanah, periode hidup di tengah suasana pengasingan pembantaian Yahudi oleh Jerman (Holocaust) pada tahun 1939. Tahun terakhir Yahudi kali ini dirayakan besar hari yang lalu, yakni 18 September 2020.

Tulisan itu berjudul    Rosh Hashanah of 1939: A holiday in the middle of the Holocaust (Rosh Hashanah tahun 1939: Liburan di tengah Holocaust). Dalam tulisan ini diberi sub judul: ‘How did Jews celebrate the Jewish New Year in the midst of the most horrendous period in Jewish history? ‘ (Bagaimana karakter Yahudi merayakan Tahun Baru Yahudi di tengah periode paling menghebohkan dalam sejarah Yahudi? ).

Begini karya artikel yang ditulis Charles Tico itu selengkapnya:

————-

Saat itu sore hari pada hari Rabu, 13 September 1939. Seperti yang telah sering saya lakukan sebelumnya selama 3 tahun terakhir, saya mengambil trem nomor lima dari rumah saya di 5 Dolni Street dalam Brno, tempat kelahiran saya porakporanda yang sekarang berada di “ Protektorat Jerman Bohemia dan Moravia ”(pernah setengah dari Cekoslowakia) porakporanda ke pemberhentian Divadelni di Timah Koliste. Di sana, seperti biasa, saya turun dari trem sebelum berhenti sepenuhnya.

Pada masa itu, trem di Brno yang memiliki kemungkinan terbuka, dan merupakan kebanggaan untuk anak berusia 12 tahun. Hamba saat itu seperti tengah buat tidak menunggu sesuatu yang umum seperti trem lainnya, alhasil sebelum berhenti total saya terlebih awal melompat ke atasnya dengan penuh semangat. Selain itu, dengan melompat saya lebh menguntungkan dari di dalam harus berjalan kembali sekitar 3 rumah, Maka setiap meter sebelumnya saya melompat maka berarti kami harus berjalan lebih sedikit.

Saya berlaku kembali ke sebuah rumah kondominium besar di belakang tempat “kuil kecil” kami berada. Itu memang bukan sinagoga kecil. Itu kira-kira menampung 500 jemaah. Tetapi Brno dulu memiliki “kuil besar” yang dibakar Nazi setelah mereka menyerang negara kami pada tanggal 15 Maret 1939.

Saya berjalan menggunakan lorong tengah gedung ke halaman di belakang dan tiba dalam sinagoga kami dan tiga kemungkinan masuknya jalan ke tempat kudus. Pintu tengah untuk pria dan mengarah ke lantai dasar. Pintu samping untuk wanita dan menuju ke balkon yang mengelilingi lantai dasar di tiga sisi.

Saya tidak masuk ke salah satu pintu ini, dan sebaliknya berbelok ke kanan lalu ke kiri dan berjalan di sepanjang sisi gedung ke sebuah pintu masuk di belakang. Di sana saya mendalam dan mencapai ruang paduan suara untuk bergabung dengan sesama bagian paduan suara, empat laki-laki & lima atau enam laki-laki asing yang mengenakan gaun, tallitot dan kippot dalam persiapan kebaktian malam.

Ketika saya berumur sembilan tarikh saya sempat mengikuti audisi untuk paduan suara dan telah diterima. Selama tiga tahun terakhir beta menyanyikan soprano, dan pada tahun 1939 telah menjadi sopran utama yang menyanyikan semua bagian solo.

Tersebut bukanlah Jumat malam atau kebaktian pagi Shabbat biasa, acara mingguan ketika paduan suara berpartisipasi pada upacara. Malam ini kami bersiap-siap untuk membantu penyanyi dan kelompok dalam merayakan Rosh Hashanah, peluncuran hari pertama Tahun Baru dalam kalender Yahudi. Kami berasumsi bahwa Cantor Ast dan rabi sudah berada di sebuah ruangan kecil di seberang gedung, juga sedang bersiap-siap untuk kebaktian.

Penyanyi Ast adalah pria bertubuh kecil, baik kepala, dan lembut dengan suara menyenangkan yang telah melatih kami selama seminggu untuk malam penting tersebut. Dia dan saya sudah memproduksi rencana untuk bar mitzvah saya di bulan April berikutnya. Sayangnya, kejadian itu tidak pernah terjadi.

Saya telah diberi tahu, pengetahuan Yahudi mengajarkan bahwa, sejak usia 70, Kamu mulai menghitung tahun Anda lagi. Jadi, saya menunggu 70 tahun, sampai saya berusia 83 tahun ketika, dengan istri tercinta di sisi saya, dikelilingi oleh anak-anak, cucu, banyak teman dan apalagi pengunjung dari Israel, saya terbit di bimah Kuil Emanuel lantaran Lembah Pascack di Woodcliff Lake, New Jersey, untuk membaca dari Taurat, melafalkan Haftarah saya serta memiliki bar mitzvah yang benar-benar menghangatkan hati dan bermakna.