Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Seseorang yang alami depresi juga merasakan kecemasan berlebih.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Sebuah belajar yang dilakukan para pengkaji dari QIMR Berghofer Medical Research Institute di Australia baru-baru ini mendapati hubungan antara depresi dan kecemasan. Studi tersebut membuktikan kalau seseorang yang menderita depresi pasti mengalami juga kecemasan berlebih.

Kausa dari kondisi tersebut pelik. Namun diyakini ada hubungannya dengan gen yang diwarisi setiap orang. Gen memainkan peran kuat dalam menyiapkan seseorang untuk menjalani kesehatan mental yang buruk seumur hidup.

Studi tersebut mengidentifikasi 509 gen yang dimiliki oleh ke-2 gangguan kejiwaan tersebut. Studi untuk mengidentifikasi gen yang terkait dengan gangguan mood seperti depresi dan kecemasan telah menemukan banyak pengikut di masa lalu.

Tapi kebanyakan lantaran mereka seperti tersangka dengan ditemukan berdiri di kira-kira tempat kejadian perkara. Kecil yang diketahui tentang posisi mereka dalam peristiwa tersebut.

“Tidak banyak yang diketahui, sampai sekarang, tentang penyebab genetik kok orang mungkin menderita kemunduran dan kecemasan, ” sekapur ahli genetika psikiatri Eske Derks dari QIMR Berghofer, seperti diwartakan Sciencealert , Jumat (16/4).

Dia menjelaskan, istilah ‘gangguan kecemasan’ mencakup kategori kondisi yang terpaut erat, seperti gangguan tegang dan berbagai fobia. Dia melanjutkan, satu hal yang sama dari semua kedudukan ini adalah rasa tegang dan khawatir, yang kala kali disertai dengan transisi fisiologis seperti peningkatan tekanan darah.

Tempat mengatakan, di sisiain, depresi didefinisikan oleh gejala tercatat motivasi rendah, perasaan lara dan kehilangan kenikmatan. Di dalam kasus ekstrim, sambung dia, akan timbul pikiran buat menyakiti diri sendiri.

Dia menjelaskan, kira-kira 2 hingga 6 tip dari komunitas global memiliki diagnosis depresi pada kepala saat. Hal itu menjadikannya tidak hanya penyumbang sari kesehatan mental yang membatalkan, tetapi salah satu urusan kesehatan terbesar yang mempengaruhi masyarakat modern secara umum.

Demikian pula, gangguan kecemasan juga mengacaukan kehidupan sehari-hari ratusan juta orang di seluruh negeri. Jika digabungkan, kedua perihal tersebut berdampak signifikan di dalam spesies kita.

Dia mengungkapkan, meskipun pada beberapa hal tampak bertentangan namun gejala kedua kedudukan tersebut muncul dengan kecocokan yang mengejutkan. Dia mengutarakan, kedua gangguan tersebut adalah kondisi yang sangat komorbiditas.

“Dengan kira-kira tiga perempat orang dengan gangguan kecemasan juga membuktikan gejala gangguan depresi mayor, ” kata Derks.