UMKM dinilai perlu alih dari berbisnis secara offline ke online

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dinilai perlu tukar dari berbisnis secara offline ke online. Maksudnya agar dapat bertahan, terutama pada tengah pandemi ini.

“Jualan online cenderung bisa menetap, ” ujar Head of Public Policy & Government Relations Shopee Indonesia Radityo Triatmojo dalam webinar pada Rabu (12/8). Shopee Indonesia, lanjutnya, juga berupaya membantu UMKM memasarkan produknya.

Ia menyebutkan, pada Maret sampai April lalu, total stimulus yang dikucurkan perusahaan ke UMKM dengan melakukan penjualan di Shopee mencapai Rp 100 miliar. Sejak bulan lalu hingga awal Agustus, Shopee Indonesia pun mendukung pemulihan ekonomi nasional.

“Untuk modal bisnis (UMKM), kita mengiblatkan mereka ke Himbara (Himpunan Bank-bank Negara). Jadi mereka mendapat pinjaman dalam bentuk KUR (Kredit Jalan Rakyat), ” ujar Radityo.

Menurutnya, di pusat situasi ini, penting bagi semua pihak saling bergotong royong menyikapi perubahan signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Termasuk keberlangsungan bisnis pelaku UMKM.

Melalui aliran Shopee Bersama UMKM, lanjut tempat, Shopee turut bekerja sama secara berbagai instansi pemerintahan. Gerakan tersebut tidak hanya melalui program edukasi, pelatihan SME Go-Online, dan dukungan stimulus yang telah dihadirkan, namun juga memberikan solusi dalam memelihara keberlangsungan bisnis UMKM.

Berikutnya, kata Radityo, Shopee hadir lewat berbagai program dukungan lanjutan lainnya. Meliputi Program Ekspor ‘Dari Lokal untuk Global’. “Shopee berkomitmen mendukung dan memperluas penguasaan pasar dari produk-produk lokal berstandar global terkurasi melalui program ekspor ke Malaysia, Singapura, dan Filipina, ” jelasnya.

Mematok saat ini, kata dia, Shopee telah mendukung 20 ribu UMKM binaan di dalam kanal khusus Kreasi Nusantara. Shopee berkomitmen memperluas jangkauan selanjutnya ke semua negara tempat Shopee beroperasi.